Titin Kharisma Membunuh Lady Gaga
Bermula dari keisengan memasukan nama semua orang yang saya kenal ke mesin pencari google, ditemukanlah Titin Kharisma. Sebuah nama yang selalu menempel pada tayangan konser dangdut yang diungguh melalui youtube. Keterangan yang tertera dibawah video Titin Kharisma mengundang senyum. “Artis dangdut terpanas abad ini.” “Dandut Hot”. Serta sejumlah keterangan bombastis lain.
Bagi saya, Titin Kharisma mewakili apa yang sejak semula kita kenal sebagai kesenian orang desa. Kesenian yang penuh ekspresi. Lepas. Apa adanya. Tanpa perlu topeng kepura-puraan. Seni yang mungkin oleh sebagian orang dipandang dengan stigma kasar, tidak patut, dan tidak layak. Tetapi bagi saya, inilah seni untuk seni.
Matinya Lady Gaga
Beberapa bulan lewat, pergelaran konser super star Amerika, Lady Gaga, ditolak kelompok massa militan. Gaga dinilai sebagai ancaman terhadap moralitas bangsa Indonesia. Video klip juga aksi panggungnya yang mengumbar erotisme haram dikonsumsi penikmat musik tanah air. Lebih-lebih konser itu telah dimeriahkan isu tidak sedap jauh sebelum digelar. Sebuah isu mistis berhembus kencang. Gaga akan mengikat jiwa para penikmat konsernya di Indonesia sebagai persembahan kepada penghulu setan. Banyak orang bereaksi. Kubu yang menyanjung dan menghujat saling bertarung.
Ujung dari cerita itu sama-sama kita ketahui. Konser batal. Hingar bingar debatnya lebih seru dari pada konser itu sendiri andaikata memang jadi tergelar.
Mengingat kejadian beberapa bulan lalu saya ingin tertawa. Video-video Titin Kharisma telah diungguh kurang lebih dua tahun silam. Menyaksikan materi videonya saya harus mengatakan: Lady Gaga sudah mati terbunuh. Aksi panggung artis dangdut ini dipenuhi goyang erotis. Tiap sudut panggung dapat menjadi tempatnya menari, mengangkat kaki, menggoyang pinggul, tidur, berguling, atau bersalto. Lady Gaga tidak mampu melakukannya.
Tetapi jangan tanya tentang kualitas suara Titin. Jika ia dulu sekelas dengan saya di sekolah dasar, saya yakin ia tidak pernah lulus ujian seni suara. Ia menciptakan dirinya lebih sebagai penghibur daripada sebagai penyanyi. Saya kira sukar baginya menembus industri musik Indonesia seperti halnya Inul Daratista jika ia hanya mengandalkan goyangannya. Meski begitu, saya harus memberikan dua jempol saya untuknya. Satu jempol untuk keberaniannya merepresentasikan seni untuk seni. Satu lagi untuk ketenangannya tidak diusik aristokrasi dangdut yang bertahta di atas kebohongan.
Bukan Chebee
Kabar gembira untuk penikmat musik marginal. Fenomena girlband bukan saja milik para pengusung musik pop. Musik dangdut tengah mengalami revolusi ke arah girlband. Satu group berisi 3 atau 4 orang. Mereka bernyanyi dengan dua buah mikrophone yang digunakan secara bergiliran. Mereka menari. Melompat. Tidur. Juga menggoda. Tidak seindah dan secantik Cherry Belle. Tapi erotisme tidak pernah berlalu. Erotisme yang dipandang secara mendua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar