Minggu, 13 Juli 2014

Terios 7 Wonders Hidden Paradise, Traveling Is About Sharing

http://papanpelangi.wordpress.com/2014/07/12/7wonders-terios-7-wonders-hidden-paradise-traveling-is-about-sharing/

https://www.facebook.com/papanpelangi


[7WONDERS] TERIOS 7 WONDERS HIDDEN PARADISE, TRAVELING IS ABOUT SHARING

Amelia Tjandra, Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor, dalam booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise menyatakan bahwa nusantara bak bentangan surga tak berbatas. Saya sangat setuju empat jempol. Kesuksesan menguak surganya kopi di bumi Andalas menginspirasinya menggelar even serupa untuk menguak surga-surga yang tersembunyi di luar Sumatera. Kali ini lintas Pulau Jawa-Komodo menjadi sasaran. Melihat 7 lokasi yang akan dituju, sebagian sudah pernah saya kunjungi. Sebagian lagi masih masuk dalam waiting list saya. Seperti Komodo, adalah nama yang terngiang-ngiang di pikiran saya. Saya jadi penasaran bagaimana perasaan tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise ketika perjalanan berujung di Pulau Komodo. Kapankah saya bisa memiliki perasaan seperti yang mereka rasakan ketika menginjakkan kaki di Komodo?
Baiklah, Komodo sudah ditahbiskan menjadi hidangan penutup. Saya ingin menyelami perjalanan tim Daihatsu Terios 7 Wonder Hidden Paradise dari awal. Seperti yang saya tulis dalam review perjalanan tim Daihatsu Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise sebelumnya, bahwa persiapan matang adalah segala-galanya untuk kelancaran dan keberhasilan suatu perjalanan. Dalam ekspedisi kali ini, dikerahkan 7 unit Daihatsu Terios terbaru yang bakal menjadi sahabat para petualang selama perjalanan. Bak roti yang keluar dari oven, 7 mobil Daihatsu Terios keluaran terbaru memang benar-benar fresh from oven, baru keluar dari pabrik. Ketujuh mobil tersebut begitu segar, bersih, dan ranum, siap untuk digunakan.
Pelepasan Tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Pelepasan Tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Persiapan meliputi berbagai aspek spesifik. Instrumen fundamental seperti pengereman, kopling, dan transmisi menjadi perhatian paling utama. Selanjutnya, perangkat roof box sebagai penampung logistik ekstra yang dibawa oleh tim. Untuk 7 unit mobil, pilihan jatuh pada 7 unit roof box Thule. Persiapan berlanjut pada pengadaan GPS dan peralatan komunikasi lainnya. Kelancaran komunikasi dan koordinasi akan membantu kenyamanan perjalanan. Bagaimanapun, perjalanan kali ini membawa empat mobil lebih banyak dan kru yang lebih banyak pula. Para blogger pemenang turut bergabung bersama kru media lainnya. Begitu sudah siap segalanya, maka petualangan sejauh kurang lebih 3.000 kilometer selama dua minggu siap dimulai!

Dimulai Dari Sawarna
Jarak 185 kilometer dari Jakarta sepertinya tidak terasa dengan adanya hiburan musik yang terpampang di monitor double DIN. Telinga para penghuni kabin Terios benar-benar dimanja, seolah tak peduli suara goncangan jalan berliku sepanjang Cikidang-Pelabuhan Ratu-Bayah. Bayah adalah pemberhentian terakhir dari jarak 185 kilometer tadi, tepatnya Desa Wisata Sawarna. Desa yang disebut-sebut sebagai desa ramah lingkungan. Bisa jadi, karena Sawarna adalah primadona wisata Provinsi Banten.
Jembatan Gantung Sawarna (Sumber: Mas Puput Aryanto - www.backpackology.me)
Jembatan Gantung Sawarna (Sumber: Mas Puput Aryanto – http://www.backpackology.me)
Sebelum memasuki desa wisata, pengunjung harus melalui jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Jika tidak bisa melalui jembatan goyang yang sebenarnya banyak ditemui di desa pedalaman, mungkin adrenalin akan berpacu alias deg-degan. Setidaknya, jembatan gantung sepanjang 50 meter itu bisa disebut sebagai sirathal mustaqim yang berpagar. Hanya sayang, menurut catatan tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise dalam booklet-nya, banyak motor yang masih berlalu lalang. Padahal, seyogyanya hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Semoga konsep desa ramah lingkungan bisa kembali sesuai tujuan.
Ada banyak garis pantai di Desa Wisata Sawarna, dua di antaranya layak untuk disambangi, yaitu Pantai Ciatir dan Pantai Tanjung Layar. Setiap pantai memiliki karakteristik yang berbeda. Seperti Pantai Ciatir, pantai ini memiliki ombak yang besar. Biasanya, ombak besar seperti ini disukai turis mancanegara yang hobi berselancar atau surfing. Setidaknya, ada spot alternatif untuk surfing selain Pantai Kuta di Bali atau Pantai Watu Karung di Pacitan. Sedangkan Pantai Tanjung Layar memiliki gugusan dua batu karang yang besar. Dua batu karang besar yang menyerupai layar kapal tersebut dikenal sebagai ikon Sawarna. Cocok untuk dijadikan objek foto.
Sunset di Sawarna (Sumber: www.wiranurmansyah.com)
Sunset di Sawarna (Sumber: http://www.wiranurmansyah.com)
Saya bisa menyimpulkan bahwa Desa Wisata Sawarna dan pantai-pantainya cocok dijadikan alternatif pelesiran bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang kangen mantai. Fasilitasnya pun terbilang sangat lengkap, termasuk penginapan dengan tarif beragam. Tak kalah dengan Kepulauan Seribu. Bagi pecinta fotografi landscape macam saya, yang mungkin wajib ditunggu saat di Sawarna adalah momen matahari terbenamnya, seperti foto karya mas Wira Nurmansyah di atas.

Belajar Peduli di Merapi
Perjalanan selanjutnya adalah Yogyakarta, yang menguji endurance (daya tahan) ketujuh Terios.  Perjalanan selama kurang lebih 20 jam menuju sisi utara Yogyakarta, tepatnya di Kinahrejo. Desa di lereng Merapi ini termasuk yang luluh lantak pasca erupsi tahun 2010 lalu. Saya jadi teringat ketika berkunjung di dusun di bawah Kinahrejo beberapa waktu lalu. Seingat saya, sudah 2 kali saya berkunjung ke sana.
Yang pertama saat saya dan Oyak, teman sekelas saat kuliah, menjadi delegasi Universitas Brawijaya di acara WISDOM UGM 2010 yang dihadiri banyak akademisi internasional dan perwakilan PBB. Di akhir acara, digelar social trip ke lereng Merapi. Waktu itu, tepatnya 8 Desember 2010, kami bersama tim delegasi lainnya adalah rombongan pertama yang diizinkan masuk ke kawasan pasca erupsi Merapi. Ketika bus memasuki kawasan bencana, saya merinding. Mata saya nanar dan sedih membayangkan nasib para korban. Semua pepohonan rebah dan ambruk. Bangunan luluh lantak tak berbentuk.
Kondisi pasca erupsi Merapi 8 Desember 2010 (dokumentasi pribadi)
Kondisi pasca erupsi Merapi 8 Desember 2010 (dokumentasi pribadi)
Saat itu hujan tengah turun, menambah suasana mencekam, takut jika Merapi mendadak batuk lagi. Di tengah reruntuhan pohon dan bangunan, saya hanya bisa berdoa memohon keselamatan para korban. Desa Kinahrejo dan sekitarnya seperti kota mati.
Kunjungan saya yang terakhir yaitu tanggal 23 Juni 2011 bersama keluarga. Saat itu cuaca cukup cerah, dan beberapa warga sekitar mulai kembali ke lokasi bencana dan berjualan apapun untuk menyambung hidup. Ada yang berjualan kaset dokumentasi erupsi Merapi, ada yang berjualan makanan dan minuman, dan sebagainya. Saya melihat kehidupan sudah mulai tumbuh, tidak hanya manusia, tetapi juga alam. Tumbuh-tumbuhan mulai hijau sedikit demi sedikit. Erupsi Merapi memang berdampak sangat mengerikan, namun setelahnya akan memberikan kesuburan bagi pertanian.
Saya bersama pedagang wedang ronde (dokumentasi pribadi)
Saya bersama pedagang wedang ronde, 23 Juni 2011 (dokumentasi pribadi)
Saya sempat menikmati wedang ronde milik salah seorang korban Merapi. Sebagian sanak familinya menjadi korban, tetapi ia bersyukur masih tetap hidup dan berjualan wedang ronde untuk menyambung hidup. Wajahnya menyiratkan rasa syukur dan semangat untuk bangkit dari bencana yang menimpanya.
Aksi penanaman 10 ribu pohon (Sumber: Puput Aryanto - http://www.backpackology.me/)
Aksi penanaman 10 ribu pohon (Sumber: Puput Aryanto – http://www.backpackology.me/)
Saya juga salut dengan kehadiran tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise di Kinahrejo. Mereka tidak sekadar hadir untuk berekreasi dan merekam eksotisnya alam Merapi. Tetapi juga memberikan sumbangsih kepedulian untuk menghidupkan kembali denyut pemukiman di lereng Merapi. Kinahrejo adalah titik pertama yang diberikan bantuan sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Daihatsu dalam ekspedisi ini. Bantuan berupa penanaman 10 ribu pohon adalah sumbangsih nyata jangka panjang.
Ketujuh mobil Terios juga sempat diuji ketangguhannya mengikuti rute Lava Tour yang notabene biasa dilewati kendaraan 4WD. Nyatanya, di samping handalnya sopir, suspensi dan sistem pengereman ketujuh Terios mampu melalui tantangan jalur berpasir bekas lahar Merapi tanpa kendala.
Lava Tour by Terios (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Lava Tour by Terios (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise benar-benar menutup kunjungannya di Kinahrejo, Merapi dengan manis. Selain mendapatkan pemandangan pasca erupsi Merapi, mereka juga melakukan sumbangsih nyata di bidang lingkungan di lereng Merapi. Terakhir, tangguhnya ketujuh Terios melewati Lava Tour menjadikan jaminan bahwa kru tidak perlu khawatir dengan perjalanan selanjutnya.

Damai di Ranu Pani
Ketika mengetahui Ranu Pani masuk dalam destinasi tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise, maka saya dapat memastikan mereka melewati jalur Senduro untuk menuju Ranu Pani. Bukan melalui jalur umum seperti biasanya lewat Tumpang-Gubugklakah-Ngadas, karena sedang terjadi perbaikan jalan di ruas Jemplang-Bantengan. Jalur Senduro sendiri sebenarnya tidak kalah buruk, namun tenaga ketujuh Terios bermesin 1.459 cc 4 silinder DOHC VVTi nyata-nyata mampu melibas tantangan jalan yang rusak, berliku dan dihiasi tanjakan maupun turunan tajam. Amunisi berupa 109 dk/6.000 rpm dan torsi 145 Nm/4.400 rpm tidak juga kehabisan nafas melalui “jalan setan” tersebut.
Ketujuh Terios berpose di Ranu Pani (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Ketujuh Terios berpose di Ranu Pani (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Mesin ketujuh Terios kembali mendingin ketika tiba di Desa Ranu Pani. Inilah salah satu desa tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut. Desa yang sangat indah, dihiasi dua ranu (danau) yang berdekatan, Ranu Pani itu sendiri dan Ranu Regulo. Saya cukup sering mengunjungi tempat ini. Bahkan, saya jatuh cinta dengan desa ini. Karena di sinilah langkah kaki menuju puncak Mahameru dimulai. Pokoknya, saya jatuh cinta dengan alam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Ranu Pani adalah desa yang damai. Sedamai wajah masyarakat Tengger yang berdiam di sana. Mereka damai hidup berdampingan dengan bertani, beternak, atau bahkan ikut menjadi kuli angkut (porter) bagi rombongan pendaki yang membutuhkan jasa mereka. Mereka hidup damai dengan cara yang mereka dapat secara turun-temurun dari leluhur mereka. Mereka keluar desa hanya mencari barang pokok yang tidak didapat di desa. Mereka hidup tenang tanpa takut kelaparan dan bisingnya perkotaan.
Mahameru dilihat dari Ranu Pani saat pagi hari (dokumentasi pribadi)
Mahameru dilihat dari Ranu Pani saat pagi hari (dokumentasi pribadi)
Tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise pun saya rasa juga ikut jatuh cinta. Terlebih mereka sempat mencoba masuk ke dalam pawon (dapur) di setiap rumah suku Tengger. Karena pawon tersebut tidak hanya sekadar memberikan kehangatan di tengah suhu dingin Ranu Pani, tetapi juga menjadi tempat berkumpul dan bercengkerama antar masyarakat atau sesama anggota keluarga sendiri.
Saya serasa ikut menghayati suasana ketika tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise mendirikan tenda di tepi Ranu Regulo. Saat malam penuh dengan ribuan bintang di angkasa, saat pagi kabut melayang-layang di permukaan danau. Bagi saya, orang yang sempat singgah menikmati keindahan Ranu Pani adalah orang yang beruntung. Jika pembaca belum pernah berkunjung ke sana, coba pergilah dan menginap barang semalam di dalam tenda atau di rumah warga Tengger.
Aksi sosial tim Daihatsu Terios 7 Wonders  di Ranu Pani (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Aksi sosial tim Daihatsu Terios 7 Wonders di Ranu Pani (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)

Ke Ranu Pani tidak harus mendaki ke Semeru. Berbaur dengan warga lokal adalah nilai lebih yang juga telah didapatkan tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise. Terlebih mereka juga melanjutkan aksi sosial dengan memberikan bantuan berupa sapu lidi dan tempat sampah sebagai wujud kepedulian terhadap isu kebersihan dan lingkungan. Lagi-lagi, ada nilai lebih di sini dari sekadar jalan-jalan.

Baluran, Afrikanya Pulau Jawa
Dari Lumajang, tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise menyisir pantai utara hingga tiba di gerbang Taman Nasional Baluran, Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Dari pintu gerbang, masih ada jalan rusak sepanjang 12 kilometer yang harus dilalui sebelum tiba di ikon Baluran, Savana Bekol. Suspensi handal ketujuh Terios menjadi senjata melalui jalan aspal rusak menuju Bekol.
Konvoi Terios di Baluran (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Konvoi Terios di Baluran (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Setibanya di Bekol, maka aktivitas wajib yang biasa dilakukan adalah trekking malam atau safary night. Juga melihat pemandangan luas Savana Bekol dari gardu pandang yang terletak di belakang Wisma Rusa Bekol. Dari gardu pandang ini, kita bisa melihat hamparan luas savana maupun Pantai Bama di sebelah timur. Jika beruntung, akan dijumpai satwa macam rusa atau banteng Jawa (Bos javanicus) berlari-lari ke sana kemari. Di gardu pandang ini pula bisa disaksikan momen sunrise jika tak sempat pergi ke Pantai Bama yang terletak 3 kilometer dari Bekol.
Savana Bekol dan Gunung Baluran, 23 November 2013 (dokumentasi pribadi)
Savana Bekol dan Gunung Baluran, 22 November 2013 (dokumentasi pribadi)
Sayang sekali, saat itu tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise belum beruntung melihat aktor utama Baluran, Banteng Jawa. Dari dua kali kesempatan ke sana, saya beruntung sempat melihat gerombolan Banteng Jawa di kesempatan kedua, bulan November 2013. Mereka sedang berendam diri dalam kubangan air di bawah teriknya siang. Satwa di Baluran tidak hanya Banteng yang saat ini jumlahnya terbatas, juga ada rusa, kera, burung merak, dan beberapa burung khas Baluran.
Banteng Jawa di kejauhan, 22 November 2013 (dokumentasi pribadi)
Banteng Jawa di kejauhan, 22 November 2013 (dokumentasi pribadi)
Dari perjalanan ke Baluran ini, tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise seperti berpesan bahwa tidak usah jauh-jauh dan buang ongkos mahal pergi ke Afrika jika ingin melihat satwa liar dan gersangnya savana. Cukup mampir ke Taman Nasional Baluran di Situbondo saja, yang gerbangnya persis di pinggir jalan raya utama menuju Banyuwangi-Bali. Pemandangannya tidak kalah cantik dengan di Afrika, karena toh statusnya juga sebagai Afrikanya Pulau Jawa.

Pulau Lombok, Harmoni Tradisi dan Alam
Baluran adalah destinasi penutup di Pulau Jawa dalam ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise ini. Di atas kapal ferry Ketapang-Gilimanuk, ketujuh Terios seperti diberi kesempatan untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Pulau Lombok. Di tengah perjalanan, tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise kembali menyempatkan rehat sejenak di Kuta, Denpasar, Bali. Dari Bali, tim kembali mengarungi laut yang panjang dari Pelabuhan Padang Bai dengan kapal ferry menuju Pelabuhan Lembar, Lombok.
Setibanya di Pelabuhan Lembar, fitur GPS langsung diaktifkan di ketujuh mobil Terios agar tidak khawatir kebingungan arah. Pemukiman Suku Sasak di Desa Sade Rambitan, Lombok adalah tujuan pertama karena lokasinya tidak jauh dari pusat kota Mataram, ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa adat ini berpenghuni sekitar 150 orang, yang mana kearifan lokalnya masih mudah dijumpai di sini seperti adanya pintu gerbang bale tani (tempat berkumpulnya warga) hingga lumbung padi. Selain rumah dan tarian adat, juga banyak ditemukan suvenir atau cinderamata khas Sasak seperti kain tenun yang proses pembuatannya bisa dilihat langsung di sana.
Tujuh Terios telah tiba di Desa Sade Rambitan, Lombok (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Tujuh Terios telah tiba di Desa Sade Rambitan, Lombok (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)

Suatu kehormatan pula ketika kedatangan tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise disambut dengan tarian khas Sasak, Tari Gendang Gelik. Sambutan tersebut diiringi dengan keguyuban dan keramahan yang khas. Kemurahan senyum warga Sasak menyiratkan kehangatan terhadap tamu yang datang.
Ketujuh Terios mejeng di tepi Pantai Pink (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Ketujuh Terios mejeng di tepi Pantai Pink (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Setelah puas menyelami tradisi Suku Sasak di desa adat Sade Rambitan, tak lupa tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise kembali melakukan aksi sosial, kali ini di bidang edukasi. Bersama tim CSR PT Astra Daihatsu Motor, mereka memberikan bantuan berupa perangkat pendidikan kepada perpustakaan di sebuah pondok pesantren di Rembitan, Lombok.
Selanjutnya, tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise kembali menyegarkan diri dengan alam. Yang dituju adalah Pantai Pink, sekitar 70 kilometer ke arah selatan atau sekitar 2 jam perjalanan. Pantai ini satu area dengan Tanjung Ringgit. Jalan rusak berdebu nan tandus sepanjang 18 kilometer dilahap habis oleh ketujuh Terios ini. Sejauh ini, ketujuh Terios masih tangguh dan dalam keadaan baik-baik saja.
Seperti halnya di Ranu Pani, perjuangan berat terbayar lunas dengan hamparan laut lepas Pantai Pink. Selain pasir dan laut birunya, panorama Pantai Pink adalah tebing terjal yang di atasnya dijadikan spot foto bagi ketujuh Terios. Sebagai bukti bahwa mereka telah berhasil melalui rintangan yang menghadang sepanjang perjalanan hingga tiba di Tanjung Ringgit.

Terbius Pesona Sumbawa
Barangkali, Lombok-Dompu menjadi rute perjalanan yang paling jauh dan melelahkan dalam ekspedisi ini. Jarak tempuh lebih dari 585 kilometer harus dilahap habis oleh ketujuh Terios. Tantangan jauhnya jarak tempuh dinikmati begitu saja oleh tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise karena ketujuh mobil SUV tersebut juga masih tangguh dan memberikan kenyamanan bagi penumpangnya.
Iring-iringan Terios melintasi jalan berliku yang mulus di Pulau Sumbawa (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Iring-iringan Terios melintasi jalan berliku yang mulus di Pulau Sumbawa (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Infrastruktur jalan raya yang mulus terasa kontras dengan pemandangan yang gersang. Sesekali perjalanan kembali menyegarkan ketika melewati perbukitan dengan panorama laut di salah satu sisinya. Kenyamanan ketujuh Terios tersebut didasari oleh penggunaan 5-link rigid axle dengan per keong masih tetap dipertahankan. Bahkan pengaturan shock absorber lebih empuk agar kenyamanan tetap terjaga.
Setelah semalaman di penginapan pesisir Pantai Lakey, Dompu, tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise langsung tancap gas menuju area susu kuda liar di perbatasan Dompu-Bima, tepatnya di Desa Palama, Donggo, Bima, Nusa Tenggara Barat. Yang unik di area susu kuda liar tersebut adalah setiap rumah biasanya memiliki 1 kuda liar peliharaan. Dan ketika cukup umur usai digembalakan liar di alam, ternyata perlu perlakuan khusus sebelum pemerahan susu tersebut, yaitu adanya pemilihan ritual.
Seorang ibu sedang memerah susu kuda liar miliknya (Sumber: Mas Puput Aryanto - http://www.backpackology.me/)
Seorang ibu sedang memerah susu kuda liar miliknya (Sumber: Mas Puput Aryanto – http://www.backpackology.me/)
Menurut pengakuan salah seorang blogger, Maulana Harris, rasa susu kuda liar disebut lebih lembut dari susu sapi. Tentu, ada keasyikan dan sensasi tersendiri ketika meminum susu kuda liar langsung di tempat asalnya. Jelas sekali, dari tuturan cerita tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise, mereka benar-benar terbius dengan pesona Sumbawa yang lengkap.

Pulau Komodo, One of The (real) World Natural Seven Wonders
Akhirnya, ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise menemukan destinasi penutup yang sangat manis: Pulau Komodo. Sebuah tempat yang sangat ingin saya kunjungi tahun ini. Di sanalah tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise berlabuh, menyaksikan warisan dunia purba berupa komodo. Fauna endemik yang sering akrab disapa “Sang Naga”.
Setelah menyeberang selama 6 jam dari Sape, rombongan tiba di Labuan Bajo saat dinihari. Dari Labuan Bajo, tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise kembali berlayar menumpang kapal phinisi Lafina dari Bone, Sulawesi Selatan menuju Pulau Komodo. Tidak hanya manusia yang ikut berlayar bersama phinisi tersebut, Terios pun ikut nangkring di atas geladak kapal untuk ikut serta menuju Pulau Komodo. Walaupun, setibanya di sana, Terios tersebut tetap diam di atas kapal dengan alasan konservasi. Pulau Kanawa, Pantai Pink, dan Pulau Rinca menjadi hiburan yang menyegarkan selama perjalanan ke Pulau Komodo.
Terios itu nangkring di geladak kapal (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Terios itu nangkring di geladak kapal (Sumber: Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Bagaimanapun, kehadiran Terios di Pulau Komodo telah menorehkan sejarah baru. Daihatsu Terios merupakan transporter pertama yang bisa mendekati dan sampai di Pulau Komodo. Perjalanan sejauh 3.012 kilometer dari Jakarta dan finish di Komodo adalah kebanggaan tersendiri. Sebuah bukti nyata ketangguhan Terios mengarungi jalanan lintas Jawa-Nusa Tenggara. Sekitar 4 jam pelayaran menuju Pulau Komodo seperti menantikan detik-detik bersejarah yang membanggakan bagi PT Astra Daihatsu Motor (ADM). Di Pulau Komodo, rombongan blogger bertemu dengan petinggi PT ADM dan berselebrasi sebagai ungkapan rasa syukur dan bangga.
Kegiatan trekking melihat Komodo bersama ranger (Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Kegiatan trekking melihat Komodo bersama ranger (Booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise)
Trekking didampingi oleh ranger untuk melihat sekawanan komodo juga menjadi agenda wajib tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise di Pulau Komodo. Dalam booklet Terios 7 Wonders Hidden Paradise, disebutkan ada sekitar 7 ekor komodo yang dijumpai selama trekking. Entah karena kebetulan atau memang Tuhan sedang mengirimkan 7 ekor komodo sebagai simbolis keberhasilan 7 Terios dalam ekspedisi ke 7 keajaiban surga tersembunyi ini.
Menyumbangkan kambing kurban kepada pengurus masjid di Labuan Bajo (Sumber: Wira Nurmansyah - http://www.wiranurmansyah.com/)
Menyumbangkan kambing kurban kepada pengurus masjid di Labuan Bajo (Sumber: Wira Nurmansyah –http://www.wiranurmansyah.com/)
Perjalanan tersebut semakin lengkap dan berkesan ketika sebelumnya tim CSR PT ADM bersama tim Daihatsu Terios 7 Wonders Hidden Paradise menyumbangkan 7 ekor kambing kurban kepada pengurus masjid di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur sebagai perayaan Hari Raya Idul Adha. Sebuah momentum yang manis dan berkesan. Lagi-lagi, saya kembali banyak belajar dari perjalanan Terios 7 Wonders Hidden Paradise. Pelajaran itu adalah: traveling is about sharing. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar