Berita Terkait
Merdeka.com - Penerimaan siswa baru (PSB) di SMA Negeri yang ada di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tercoreng, lantaran adanya dugaan jual beli kursi. Bahkan, pungli masuk ke sekolah lanjutan dari SMP tersebut hingga Rp 6 juta.
Informasi yang dihimpun, adanya uang pungli penerimaan siswa terjadi di SMAN 6 Kota Tangsel. Salah satu orangtua siswa mengatakan kaget saat dimintai uang sebesar Rp 7,5 juta oleh pihak sekolah. Dia mengaku, sebelumnya sudah membayar sebesar Rp 6 juta kepada pihak ketiga agar anaknya dapat diterima di SMA tersebut.
Setelah membayar dan anaknya masuk, namun sayangnya dari pihak sekolah meminta kembali nominal sebesar Rp 7,5 juta.
"Saya dari orang yang tak mampu. Saya kaget, sudah bayar Rp 6 juta, lalu harus bayar bantuan sarana dan prasarana sekolah sebesar Rp 7,5 juta," kata sumber yang enggan disebut nama, Tangsel, Minggu (13/7).
Menurut dia, pihak sekolah beralasan uang tersebut untuk membangun kelas tambahan. Selain itu, pihak sekolah juga meminta orangtua siswa harus membayar daftar ulang sekolah sebesar Rp 1,2 juta.
"Masuk sekolah di Tangsel mahal, semua harus pakai uang, bagaimana dengan siswa miskin yang ingin masuk sekolah negeri. Katanya masuk sekolah gratis," katanya.
Saat dikonfirmasi, Kepala Sekolah SMAN 6 Tangsel Agus Hendrawan membantah adanya pungutan liar tersebut. Pihak sekolah meminta sejumlah uang berdasarkan persetujuan orangtua siswa.
"Pihak sekolah tidak memaksa untuk memungut uang tersebut. Orangtua siswa sudah menyetujui," ucapnya.
Agus mengatakan, kuota penerimaan siswa baru di SMAN 6 Tangsel sudah habis. Tahun ini pihaknya menerima sebanyak 380 siswa untuk 10 kelas dari jalur online dan mandiri.
"Kalau uang tersebut merupakan kesepakatan dari orangtua siswa dari jalur belakang," ujarnya.
Meskipun kuota untuk penerimaan siswa baru, pihaknya masih membuka. Lantaran, adanya siswa titipan dari sejumlah pihak.
"Mereka semua juga ada yang titipan dari oknum anggota dewan, oknum wartawan dan oknum dinas pendidikan. kita hanya mengakomodir dan tidak melakukan pungutan," terangnya.
Terpisah, Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany menyesalkan mendapatkan informasi masih adanya dugaan sekolah negeri yang melakukan praktik pungli penerimaan siswa baru.
"Akan ada evaluasi dalam waktu dekat. Tidak ada alasan untuk melakukan pungutan, terlebih alasannya untuk pembangunan. Itu semua sudah ditanggung oleh APBD Kota Tangsel," tegasnya.
Informasi yang dihimpun, adanya uang pungli penerimaan siswa terjadi di SMAN 6 Kota Tangsel. Salah satu orangtua siswa mengatakan kaget saat dimintai uang sebesar Rp 7,5 juta oleh pihak sekolah. Dia mengaku, sebelumnya sudah membayar sebesar Rp 6 juta kepada pihak ketiga agar anaknya dapat diterima di SMA tersebut.
Setelah membayar dan anaknya masuk, namun sayangnya dari pihak sekolah meminta kembali nominal sebesar Rp 7,5 juta.
"Saya dari orang yang tak mampu. Saya kaget, sudah bayar Rp 6 juta, lalu harus bayar bantuan sarana dan prasarana sekolah sebesar Rp 7,5 juta," kata sumber yang enggan disebut nama, Tangsel, Minggu (13/7).
Menurut dia, pihak sekolah beralasan uang tersebut untuk membangun kelas tambahan. Selain itu, pihak sekolah juga meminta orangtua siswa harus membayar daftar ulang sekolah sebesar Rp 1,2 juta.
"Masuk sekolah di Tangsel mahal, semua harus pakai uang, bagaimana dengan siswa miskin yang ingin masuk sekolah negeri. Katanya masuk sekolah gratis," katanya.
Saat dikonfirmasi, Kepala Sekolah SMAN 6 Tangsel Agus Hendrawan membantah adanya pungutan liar tersebut. Pihak sekolah meminta sejumlah uang berdasarkan persetujuan orangtua siswa.
"Pihak sekolah tidak memaksa untuk memungut uang tersebut. Orangtua siswa sudah menyetujui," ucapnya.
Agus mengatakan, kuota penerimaan siswa baru di SMAN 6 Tangsel sudah habis. Tahun ini pihaknya menerima sebanyak 380 siswa untuk 10 kelas dari jalur online dan mandiri.
"Kalau uang tersebut merupakan kesepakatan dari orangtua siswa dari jalur belakang," ujarnya.
Meskipun kuota untuk penerimaan siswa baru, pihaknya masih membuka. Lantaran, adanya siswa titipan dari sejumlah pihak.
"Mereka semua juga ada yang titipan dari oknum anggota dewan, oknum wartawan dan oknum dinas pendidikan. kita hanya mengakomodir dan tidak melakukan pungutan," terangnya.
Terpisah, Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany menyesalkan mendapatkan informasi masih adanya dugaan sekolah negeri yang melakukan praktik pungli penerimaan siswa baru.
"Akan ada evaluasi dalam waktu dekat. Tidak ada alasan untuk melakukan pungutan, terlebih alasannya untuk pembangunan. Itu semua sudah ditanggung oleh APBD Kota Tangsel," tegasnya.
Sebelumnya, seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau PSB di sekolah berstatus negeri tahun ajaran 2014/2015 dengan sistem domisili 30 persen, mendapat banyak keluhan dari orangtua siswa.
Seperti yang dikatakan Dimah, warga Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda mengatakan, bahwa sistem tersebut memberatkan anaknya masuk ke sekolah negeri. Pasalnya di kelurahan Jurumudi tidak ada SMP negeri, sehingga anaknya harus masuk melalui jalur umum ke sekolah negeri di kelurahan lain.
"Bagaimana kami yang kelurahannya tidak mempunyai sekolah SMP, sedangkan melalui cara umum sangat lah sulit, dikhawatirkan banyak permain uang di dalamnya," kata Dimah di Tangsel, Sabtu (12/7).
Atas kejadian tersebut, sambung Airin, pihaknya bakal mengumpulkan seluruh kepala sekolah untuk mengevaluasi adanya dugaan praktik pungli di sekolah negeri
Seperti yang dikatakan Dimah, warga Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda mengatakan, bahwa sistem tersebut memberatkan anaknya masuk ke sekolah negeri. Pasalnya di kelurahan Jurumudi tidak ada SMP negeri, sehingga anaknya harus masuk melalui jalur umum ke sekolah negeri di kelurahan lain.
"Bagaimana kami yang kelurahannya tidak mempunyai sekolah SMP, sedangkan melalui cara umum sangat lah sulit, dikhawatirkan banyak permain uang di dalamnya," kata Dimah di Tangsel, Sabtu (12/7).
Atas kejadian tersebut, sambung Airin, pihaknya bakal mengumpulkan seluruh kepala sekolah untuk mengevaluasi adanya dugaan praktik pungli di sekolah negeri
- Maryanto Setiadi · Top Commenter · Satya Wacana Christian University
Hanya sapu yang bersih bisa membersihkan lantai yang kotor, tak mungkin sapu yang kotor membuat lantai kotor menjadi bersih...
Yanhuartzh Fathurrohman
Indonesia ga ada yg gratis semua serba pake duit... Gratis cuma topeng doang, hadeuh... Gimana Indonesia mau maju






.jpg)


.jpg)



.jpg)

.jpg)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar