Selasa, 03 Juni 2014

SBY: Pers Kita Terbelah, Lihat Metro TV dan TV One



News / Nasional

Selasa, 3 Juni 2014 | 12:11 WIB
Kompas.com/SABRINA ASRILPresiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara Rakornas Persialan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden di Sentul, Selasa (3/6/2014).


BOGOR, KOMPAS.com -- 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengkritisi pemberitaan media massa saat ini terkait pemilu yang disebutnya tidak berimbang dan tendensius. Bahkan Presiden secara eksplisit menyebut dua stasiun televisi nasional, Metro TV dan TV One, sebagai contoh ketidakberimbangan itu.
"Tahun 2014 ini, pers kita sudah terbelah, divided. Coba simak. Paling mudah simak Metro TV dan TV One," ujar Presiden dalam acara Rakornas Persiapan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden di Sentul, Bogor, Selasa (3/6/2014).
Presiden lalu menunjuk dua wartawan Metro TV dan TV One yang berdiri berhadapan dengannya. "Beliau pun tersenyum dan ketawa," seloroh SBY kepada dua wartawan itu.
Presiden berharap agar pers dan media massa bisa melakukan pemberitaan yang akurat dan konstruktif. Menurut dia, hal itu memang mudah untuk diucapkan, tetapi sangat sulit dilakukan para pemilik media.
"Saya harus gunakan kalimat terang. Sungguh pun agar pers di samping faktual, juga fair dan berimbang. Ini juga susah. Hakikatnya, saya ingatkan pada insan pers dan media massa, media massa milik publik dan untuk kepentingan publik, bukan hanya pemilik modal," kata Presiden.
Dalam pemilihan legislatif yang lalu, Presiden melihat terbelahnya media akibat kepentingan pemilik media sangat terlihat. Namun, Presiden mengaku tak akan berhenti mengkritik meski sudah tidak lagi menjadi presiden nantinya.
"Agar pers kita berimbang, adil, konstruktif, agar akurat serta tidak tendensius," ucap Ketua Umum Partai Demokrat itu.


News / Nasional

Lagi, SBY Minta Menteri yang Sibuk Berpolitik Mundur dari Kabinet

Selasa, 3 Juni 2014 | 11:42 WIB
TRIBUNNEWS/HERUDINKetua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pada Rapimnas Partai Demokrat di Jakarta. Minggu (18/5/2014). Rapimnas ini mengagendakan pengambilan keputusan beberapa pilihan terkait pilpres mendatang yakni berkoalisi dengan parpol lain membentuk poros baru atau mengambil sikap sebagai partai oposisi.


BOGOR, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali meminta para menteri yang lebih sibuk dalam dunia politik menjelang Pemilu Presiden 2014 agar mengundurkan diri dari kabinet. Hal tersebut disampaikan Presiden SBY dalam acara Rakornas Persiapan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden di Sentul International Convention Center, Bogor, Selasa (3/6/2014).
Presiden mengatakan akan menggelar sidang kabinet paripurna pada 4 Juni mendatang. Di dalam rapat itu, Presiden akan membuka rapor kinerja dari para menteri.
"Kami sudah berikan penilaian, ada sejumlah menteri yang mendapatkan penilaian dan catatan," ujar Presiden SBY di Sentul, Bogor, Selasa (3/6/2014).
Menurut Presiden, penilaian itu dilakukan agar para menteri bisa konsentrasi dan menjalani tugas kementeriannya dengan baik. Di dalam pertemuan itu, Presiden akan menyampaikan agar menteri tersebut mengundurkan diri jika merasa tidak mampu lagi melakukan tugas pemerintahan.
"Besok saya sampaikan ke para menteri, kalau memang tidak mungkin lagi urus kementeriannya atau masih ingin bergerak ke sana kemari, saya persilakan mengundurkan diri," ujar Ketua Majelis Tinggi sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat itu.
SBY kerap mempersilakan para menteri yang ingin fokus di politik untuk mengundurkan diri dari kabinet. Sebelumnya, Gita Wirjawan mengundurkan diri sebagai Menteri Perdagangan karena ingin fokus pada proses konvensi capres Demokrat. Lalu, Hatta Rajasa mengundurkan diri sebagai Menteri Koordinator bidang Perekonomian karena maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.
Di dalam kabinet Indonesia Bersatu II banyak menteri yang menjabat pimpinan parpol. Mereka disibukkan dengan Pilpres 9 Juli mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar