Sejak hilang 8 Maret lalu, pesawat itu masih belum ditemukan.
ddd
Rabu, 4 Juni 2014, 12:34Denny Armandhanu, Santi Dewi
Pesawat Boeing milik Malaysia Airlines (Ilustrasi
VIVAnews - CEO maskapai asal Uni Emirat Arab, Emirates, Tim Clark menemukan kejanggalan dalam peristiwa hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370, 8 Maret lalu. Menurut dia, begitu terdeteksi di radar militer dan terbang tidak sesuai dengan jalur penerbangan, seharusnya ada jet tempur yang dikerahkan untuk mencari.
Dilansir Channel News Asia, Selasa 3 Juni 2014, Clark menyampaikan hal itu di sela-sela pertemuan tahunan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) di Qatar.
"Apabila Anda terbang dari London (Inggris) menuju Oslo (Norwegia), kemudian melintasi Laut Utara dan menuju ke bagian barat Irlandia, maka dalam dua menit, akan muncul jet tempur Tornado dan Eurofighter di sekitar Anda," kata Clark.
Dia melanjutkan apabila hal itu terjadi di wilayah udara Australia dan Amerika Serikat, maka akan terjadi sesuatu. "Saya tidak tahu di mana peranan radar militer dalam peristiwa ini," imbuh Clark.
Komentar Clark di saat IATA tengah meningkatkan pelacakan pesawat melalui data transmisi penerbangan atau teknologi untuk memantau pergerakan mereka. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) juga turut membentuk sebuah kelompok kerja untuk mencari tahu metode pelacakan lainnya.
"Dalam pandangan saya kita semua tiba pada kesimpulan bahwa 'kita harus memperbaiki ini semua'. Pintu sudah mulai tertutup, setelah semuanya berjalan sejauh ini," kata Clark.
Sebelumnya MH370 dilaporkan terlacak di radar militer pesawat tempur Malaysia. Namun, mereka mengaku tidak melakukan tindakan apa pun terhadap pesawat itu, karena dianggap bukan objek berbahaya.
Menteri Pertahanan Malaysia, Hishammuddin Hussein mengaku akan meninjau kembali prosedur militer paska hilangnya MH370.
Kepala IATA, Tony Tyler mengatakan sejak peristiwa MH370 pihaknya bekerja sama dengan ahli dari seluruh dunia untuk meningkatkan kemampuan pelacakan global. Rekomendasi dari para ahli ini nantinya akan diserahkan ke ICAO September mendatang.
"Dengan adanya data ini, maka dapat memberikan panduan dan perbaikan keselamatan lainnya," imbuh dia.(Umi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar